ADITYA HADI PRATAMA

Ana hanyalah seorang pemuda berusia 19 tahun yang lahir tanggal 5 Juni 1989 di ranjang Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang jauh dari Islam, bahkan shalat pun jarang. Kakek ana yang paling islami dalam keluarga meninggal dunia saat ana berusia 6 tahun. Jadilah keluarga ana hidup dalam kegelapan, dan hanya berprioritaskan materi dunia.

5 Tahun kemudian ketika ana masuk SMPN 75, barulah ana  kenal yang namanya ROHIS. Namun pada saat itu tak lain yang ana pikirkan kecuali berkumpul bersama teman-teman, ngaji-ngaji sebisanya, marawisan, dan lain-lain hal-hal yang kurang berguna. Peta kehidupan ana sedikit berubah ketika menginjak SMAN 78 yang begitu gencar dengan gerakan Liqo’nya. Sistem pengajaran Islam yang berdasarkan materi Ikhwanul Muslimin ini, telah membakar ghirah kepemudaan ana menjadi seorang yang militan bermandikan syair-syair nasyid penggugah semangat jihad.

Di tahun yang sama ketika ana dipercaya menjadi seorang wakil ketua Rohis SMAN 78, ana bertemu dengan seorang adik kelas dalam sebuah halaqah pengajaran tajwid (ekstra kurikuler sekolah) di mana ana sebagai pengajarnya. Maklum lah, dulu ana sempat mengenyam pendidikan TK Al-Qur’an selama 2 tahunan yang membuat ana tak bego-bego banget masalah ngaji. Di situ, semangat juang ana untuk membela Palestina dihadapkan pada sebuah perkataan adik kelas ana tersebut.

“MANA DALILNYA, KAK?”

Ana mengingat-ingat pengertian kata “dalil” dalam kamus bahasa Indonesia Lengkap. Yaitu alasan, atau dasar pemikiran. Barulah ana berpikir, bahwa semangat dan kesungguhan ana selama ini tak pernah sedikitpun terdasari dan terfondasi oleh dasar-dasar agama Islam yang suci ini, Al-Qur’an dan Sunnah. Barulah ana mencoba menemukan cara-cara berislam yang baik, yang berdasarkan dalil, yang sejalan dengan fitrah manusia, dan yang paling penting, cara berislam yang dicontohkan oleh Rasulullah pada ummatnya.

Hingga tibalah pelayaran pemikiran ana di pelabuhan cinta nan abadi. Ana berhadapan langsung dengan Ustadz.Hakim bin Amir Abdat (semoga Allah menjaganya dalam kebaikan) di basement gedung Bursa Efek Jakarta dalam kajian kitab Risalah BId’ah.

Hingga tibalah pelayaran pemikiran ana pada sebuah pelabuhan cinta nan abadi. Perhentian ilmu nan murni yang melambungkan ana hingga ke ufuk tinggi. Ana berhadapan langsung dengan Ustadz. Abdul Hakim bin Amir Abdat di basement Bursa Efek Jakarta di bilangan Semanggi. Ana ingat betul bahwa pertama kali ana tertarik dengan 1 kosakata yang aneh nan asing di telinga : BID’AH. Jadilah ana membeli kitab Risalah Bid’ah karya Ustadz. Abdul Hakim bin Amir Abdat, dan Al-’tishoom karya Imam Asy-Syathibi.

Jadilah ana mulai memahami sisi lain agama ini yang belum pernah ana jamah. Sebuah sisi yang begitu lengkap dan sarat akan keilmiahan. Sebuah jalan yang dikatakan sebagai jalan yang ditempuh para Shalafush Shalih yang telah mendahului kita dalam kebaikan. Di sinilah ana mengenal pembagian hadits menjadi hadits shahih dan hadits dha’if. Padahal sebelumnya yang ana tahu hanyalah teks arab dari sebuah Al-Qur’an. Tak pernah ana membaca satu pun teks hadits. Arti Qur’an pun hanya tahu sedikit-sedikit. Hafalan? Jangan ditanya lagi tentang kekurangannya. Tapi Alhamdulillah, segalanya seperti berbalik 180 derajat. Semangat ana yang begitu menggebu tak kunjung padam, namun malah menemukan jalan yang baru sebagai pelampiasannya, yaitu jalan ini, jalan yang Insya Allah selalu diberkahiNya, jalannya Al-Ghuroba’ yang selalu setia pada kebenaran hingga akhir zaman.

Bukannya ana menyucikan diri sendiri, atau menganggap diri paling benar. Hamba berlindung dari tazkiyah yang diharamkan dan bentuk kesombongan itu. Siapakah hamba hingga berani begitu lancang pada Rabbul Alamiin? Hamba sadar bahwa hamba begitu penuh dengan kesalahan. Hamba henya memuji jalan yang diberkahi ini, jalan di mana seluruh keindahan Islam berkumpul, jalan yang Allah dan Rasul-Nya sendiri telah menyuruh kita untuk menitinya, di mana ana sadar bahwa ana masih begitu jauh dari jalan itu.

Segalanya berlanjut hingga hamba hampir lulus dari SMAN 78 yang begitu ana cintai itu. Apalagi dengan PMDK dari Universitas Indonesia yang ana berkesempatan mengajukan ‘lamaran’ walaupun pada akhirnya ana tidak diterima di PMDK itu. Ana semakin bersemangat menuju bangku kuliah yang telah ana impikan, karena pandangan ana yang mungkin sedikit berlebihan tentang kebebasan yang akan ana raih saat kuliah. Bagaimana ana nanti berjaket kuning dengan teman-teman di kiri dan kanan. Dan ana juga bermimpi ingin berdakwah di kampus ana nanti, setelah ana melihat kurangnya kesadaran mayoritas warga 78 untuk mempelajari agama yang mulia ini dengan benar.

Qadarallah, ibu yang selama ini merawat ana hingga sebesar ini, yang ana pun sangat mencintainya walaupun tak pernah sempat mengatakan itu di hadapannya, harus menuju tempat peristirahatan terakhirnya dalam sebuah peristiwa yang begitu memilukan.

Namun, Qadarallah, antusiasme itu harus berakhir dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ana harapkan bakal terjadi. Namun ana tetap bersabar atas semuanya karena ana yakin inilah yang terbaik bagi ana. Ibu yang selama ini merawat ana hingga sebesar ini, dan ana pun sangat mencintainya walaupun tak sempat mengatakan itu di hadapannya, harus menuju tempat peristirahatan terakhirnya dalam sebuah peristiwa yang begitu memilukan. Sebagian rumah ana terbakar hingga menghanguskan seluruh tubuh ibu ana hingga sekitar 60 %. Sebuah hal yang ajaib melihat ia masih mampu bertahan sekitar seminggu di ruang ICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Masih terngiang dalam ingatan hamba keramaian dini hari itu ketika hamba dikejutkan dengan suara gaduh dari arah dapur. Suara itu diikuti keramaian berikutnya ketika Pakde dan Ayah ana berlarian keluar mengambil ember. Ana dengan mata masih sedikit terpejam begitu heran menyaksikan kejadian yang begitu cepat itu. ana pun melihat kobaran api di bagian belakang rumah ana, dan jantung ana langsung berdegup kencang penuh rasa tegang bagai akan lepas dari tempatnya.

Segalanya terjadi begitu cepat hingga ana hanya bisa terdiam di teras rumah dan tak mampu berbuat apa-apa. Namun hati ana lebih teriris lagi mendengar sebuah jeritan rasa sakit dari arah dapur. Ibu … Ibu … iya, itu suara ibu ana. Ana begitu mengenal suara itu karena begitu seringnya ia memanggil ana penuh kasih sayang walau terkadang ia suka membentak karena ana yang berbuat kesalahan. Ibu yang begitu ana cintai, apa yang terjadi padanya? “Panaas…ppanaas..” teriakan itu bagai membakar telinga ana hingga tanpa terasa air mata menetes dari sisi kedua mata ana. Bahkan air mata itu pun masih sering tercurah, bila ana kembali mengingat-ingat waktu itu. Beberapa lama kemudian tanpa banyak basa-basi, sebuah mobil tetangga disiapkan untuk membawa ibu ana ke rumah sakit. Ana tak mampu menggerakkan kaki ana ketika ibu ana dibopong keluar. Kulitnya yang biasanya kuning langsat nan bersinar itu, kini berubah hitam legam bagaikan arang. Baju dasternya telah compang-camping menyisakan bau anyir bekas kain terbakar. Dari beberapa helai rambutnya masih tersisa sedikit bara api yang baru saja menjilati tubuhnya. Ana begitu … ana begitu shock dengan semuanya. Ana tak lagi memikirkan hal lain saat itu. Ana terduduk di teras rumah sambil menangis, ya, ana menangisi segalanya yang baru saja terjadi.

(Bersambung, insya Allah ana lanjutkan …..)

Tinggalkan Balasan